Oleh: rachmadpratama | Januari 24, 2010

RANTAI BELENGGU INDUSTRI MUSIK INDONESIA

Dalam dunia perdagangan barang siapa yang bisa menguasai pasar dialah yang mendapatkan semua keuntungan. Begitulah yang selalu terjadi dalam dunia ekonomi dengan sistem kapital yang kebetulan juga dipakai di Indonesia. Indsutri musik adalah salah satu dari sekian banyak industri yang berkembang di Indonesia. Fenomena yang terjadi dalam dunia musik dari tahun ke tahun apalagi jika dilihat dari decade ke decade mengalami perubahan yang signifikan.

Dari dekade ke dekade perubahan terjadi dalam indsutri musik Indonesia, era 80-an akhir hingga 90-an banyak yang menganggap sebagai era kebangkitan musik rock, yang dalam kancah waktu tersebut menjadi mendunia. Banyak band rock yang bermunculan dari Amerika dan inggris, mereka semua menorehkan nama-nama dalam sejarahdan perkembangan dunia musik seperti Dio, Iron Maiden, Whitesnake, MotorHead, dll. Dari masa pertengahan ke akhir seperti Mr.Big, GnR, dan masih banyak lagi. Di era ini informasi masuk dan keluar dengan batasan yang sedikit, sehingga kita bisa menemui berbagai istilah yang berhubungan dengan fashion dan lifestyle, yang mengacu pada orang-orang yang mengikuti lifestyle atau fashion seseorang seperti prokem, atau jeger(istilah ini sangat populer di wilayah sunda bagian barat!!!) yang mengacu pada Mick Jagger, yang jadi ikon yang mempengaruhi gaya hidup dan pakaian masyarakat kota.

Walaupun istilah Jeger mengacu terhadap masa yang lebih tua dibanding dengan era rock (kebetulan mengacu pada era rock n’roll dengan ikon-nya Mick Jagger). Namun dalam era ini bukan hanya musik Rock yang tumbuh dengan subur, musik pop, blues dan Jazz masih on-air di semua media yang ada di sana, dengan begitu asumsinya genre-genre musik tersebut masih mendapatkan sambutan yang cukup baik dari khalayak.

Bahkan banyak musisi berpendapat bahwa dari tahun 90-an hingga awal 2000-an merupakan era musik yang paling plural, hal ini bisa kita buktikan dengan banyaknya genre yang berasal dari genre musik alternatif, progresif dsb. Namun terjadi perubahan dalam dunia musik nasional saat memasuki tahun 2005, genre pop mulai dielu-elukan lagi oleh major label dan hal ini berlangsung terus hingga saat ini, sepert fenomena di media, khususnya televisi yang dipenuhi oleh band-band pop melayu dalam negri.

Dalam masa sekarang, penyeragaman siaran musik yang live atau tidak dipenuhi oleh band-band pop melayu. Banyak yang berpendapat ini adalah penyeragaman musik dan pembentukan pasar oleh label-label besar. Dengan demikian pasar yang nanti terbentuk adalah pasar musik pop melayu. Dan dalam keadaanya sekarang membunuh berbagai genre musik lain yang muncul di pasaran dan bagi mereka yang baru meniti karir, kesempatan menjadi sangat sulit didapat.

Akhirnya dunia musik nasional menjadi dunia musik yang homogen pop melayu, walaupun band raksasa bisa dibilang tidak terpengaruh sama sekali. Musik-musik yang punya keunikan dan karakter yang khas akhirnya banyak yang mengambil jalur indie. Walaupun dengan fasilitas yang terbatas, namun mereka lebih memilih kebebasan berekspresi dibandingkan uang dan fasilitas yang jauh lebih lengkap tetapi lebih terkurung kreativitasnya dalam major label. Efek yang dibawa kebijakan major ini menghancurkan cikal-bakal band-band yang melahirkan pluraritas belantara musik nasional.

Bahkan  Rieke Ruslan sebagai penulis lagu senior pun menolak menulis lagu lagi untuk label besar sebagai bentuk protes atau Fariz Rm berkomentar tentang buruknya musikalitas band-band pendatang baru. Sampai kapankah era ini berlanjut? Pasarlah (khalayak) yang memutuskan.

(Diambil dari matapejuang.wordpress.com)


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.